Download Wrap Up Skenario 1 PDF

TitleWrap Up Skenario 1
File Size200.0 KB
Total Pages18
Document Text Contents
Page 9

Jenis Salmonella lain ada yang menyebabkan gejala hanya dengan jumlah 100 sampai 1000,
bahkan dengan jumlah 50 sudah dapat menyebabkan gejala. Perkembangan Salmonella pada
tubuh manusia dapat dihambat oleh asam lambung yang ada pada tubuh kita. Disamping itu
dapat dihambat pula oleh bakteri lain. Gejala dapat terjadi dengan cepat pada anak-anak,
bagaimanapun pada manusia dewasa gejala datang dengan perlahan.Pada umumnya gejala
tampak setelah 1-3 minggu setelah bakteri ini tertelan.Gejala terinfeksi diawali dengan sakit
perut dan diare yang disertai juga dengan panas badan yang tinggi, perasaan mual, muntah,
pusing-pusing dan dehidrasi. Gejala yang timbul dapat berupa: tidak menunjukkan gejala (long-
term carrier), adanya perlawanan tubuh dan mudah terserang penyakit denga gejala: inkubasi (7-
14 hari setelah tertelan) tidak menunjukkan gejala, lalu terjadi diare.

LO 2.3 Klasifikasi salmonella
klasifikasi Salmonella enteric :
Kingdom : Bakteria
Phylum : Proteobakteria
Classis : Gamma proteobakteria
Ordo : Enterobakteriales
Familia : Enterobakteriakceae
Genus : Salmonella
Species : Salmonella thyposa

LI III. Memahami dan menjelaskan demam typhoid

LO.3.1 Definisi
Demam tifoid, atau typhoid fever adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia, dan disebarkan melalui makanan dan minuman
yang telah tercemar oleh tinja. Penyakit yang biasa disebut juga typhus atau types dalam bahasa
awam ini, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica,, khususnya
turunannya yaitu Salmonella typhi yang terutama menyerang bagian saluran pencernaan.

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di
Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa.Demam tifoid hampir sama manifestasi
klinisnya dengan demam paratifoid , hanya saja pada demam paratifoid manifestasinya lebih
ringan. Terminologi lain yang sering digunakan adalah typhus , parathypus abdominalis atau
demam enterik.

LO 3.2 Etiologi
Demam typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yangmemasuki
tubuh penderita melalui saluran pencernaan. Sumber utama yang terinfeksiadalah manusia yang
selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit,baik ketika ia sedang sakit atau sedang
dalam masa penyembuhan.Pada masa penyembuhan, penderita pada masih mengandung
Salmonella spp didalam kandung empedu atau didalam ginjal. Sebanyak 5% penderita demam
tifoid kelak akan menjadi karier sementara,sedang 2 % yang lain akan menjadi karier yang
menahun.Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal type) sedang
yang lain termasuk urinarytype. Kekambuhan yang yang ringan pada karier demam
tifoid,terutama pada karier jenisintestinal,sukar diketahui karena gejala dan keluhannya tidak
jelas.


http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit
http://id.wikipedia.org/wiki/Salmonella
http://id.wikipedia.org/wiki/Salmonella_enterica
http://id.wikipedia.org/wiki/Tinja

Page 10

LO 3.3 Manifestasi
Biasanya gejala mulai timbul secasra bertahap setelah 8-14 hari terinfeksi gejalannya demam,
sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, turunnya nafsu makan, & nyeri perut,
terkadang penderita mengalami batuk . Jika tidak dilakukan pengobatan suhu akan meningkat
dalam 2-3 hari menjadi 39-40˚ C selama 10-14 hari dan turun pada minggu ke 3, dan kembali
normal dalam minggu ke 4.\

LO 3.4 mekanisme
Masuknya kuman Salmonella typhi (S. typhi) dan Salmonella paratyphi (S. paratyphi) ke

dalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman
dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang
biak. Bila respons imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka kuman akan
menembus sel-sel epitel (terutama sel-M) dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia
kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag.

Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke
plak Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui
duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah
(mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikulo
endotelial tubuh terutama hati dan limpa.

Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak
di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi
mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakiy
infeksi sistemik.

Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, dan bersama
cairan empedu diekskresikan secara intermiten ke lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan
melalui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setalah menembus usus. Proses yang
sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat
fagositosis kuman Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya
akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialga, sakit kepala,
sakit perut, instabilitas vascular, gangguan mental, dan koagulasi.

Di dalam plak Peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hyperplasia jaringan (S.
typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat, hyperplasia jaringan dan
nekrosis organ). Perdarahan saluran cerna dpat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plague
Peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hyperplasia akibat akumulasi sel-sel mononuclear di
dinding usus. Proses patologis otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi.
Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi
seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular,

LO 3.5 diagnosis
Sebelum mengetahui penyakit yang diderita oleh pasien dan memberikan antibiotik atau

antimikroba, anamnesis harus dilakukan untuk menentukan keluhan utama dari pasien.Keluhan
utama pasien dapat mengacu kepada gejala utama dari penyakit tersebut. Setelah keluhan utama
didapat, dengan anamnesa akan didapat pula keluhan-keluhan tambahan untuk memperkuat
diagnosis. Setelah itu, pemeriksaan fisik apakah terdapat tipoid tounge, nyeri otot dan harus
dilakukan sebagai langkah kedua setelah anamnesa.Setelah melakukan pemeriksaan fisik, baru
dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai penguat diagnosis.

Similer Documents