Download Tatanan Tektonik Indonesia PDF

TitleTatanan Tektonik Indonesia
File Size165.6 KB
Total Pages5
Document Text Contents
Page 2

dengan berbagai pendekatan konsep tektonik klasik. Konsep tektonik klasik adalah konsep yang

berpandangan bahwa terbentuknya geosiklin sampai pegunungan terjadi pada tempat yang tetap.

Namun pada dasarnya konfigurasi tektonik Indonesia saat ini merupakan representasi dari hasil

pertemuan konvergen tiga lempeng sejak zaman Neogen. Pola dan perkembangan tektonik

Indonesia terjadi lebih mudah dipahami dengan menerapkan pola pemikiran tektonik yang baru,

yaitu berdasarkan pola pemikiran konsep tektonik mobilist, antara lain konsep pengapungan

benua, konsep tektonik lempeng atau konsep tektonik global.

Sartono (1990) menggabungkan teori klasik dan mobilist dengan mengemukakan bahwa tatanan

tektoonik Indonesia selama Neogen dipengaruhi oleh tatanangeosiklin Larami. Busur-busur

geosiklin ini merupakan zona akibat proses tumbukan kerak kontinen dan oseanik. Kerak

kontinen yang bekerja pada waktu itu terdiri dari kerak kontinen Australia, kerak kontinen Cina

bagian selatan, benua mikro Sunda, kerak oseanik pasifik, dan kerak oseanik Sunda. Tumbukan

Larami tersebut membentuk busur-busur geosiklin Sunda, Banda, Kalimantan bagian utara, dan

Halmahera-Papua. Peta anomali gaya berat dapat menunjukkan dengan baik pola hasil tektonik

ini.

Berankag dari teoru tektonik lempeng, kepualauan Indonesia dianggap sebagai jalur produk

tumbukan tiga lempeng litosfer yaitu (1) Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara, (2)

lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, dan (3) Lempeng Eurasia yang bergerak relatif ke

selatan. Berdasarkan pengukuran Very-long Baseline Inferometry, VLBI (Pratt, 2001) diketahui

bahwa saat ini lempeng oseanik Indo-Australia bergeer ke barat-laut dengan kecepatan rata-rata

5,5 – 7 cm pertahun; lempeng oseanik Pasifik bergeser ke barat laut dengan kecepatan rata-rata

lebih dari 7 cm pertahun; dan lempeng kontinen Eurasia yang bergeser ke arah barat daya dengan

kecepatan rata-rata 2,6 – 4,1 cm pertahun.

Busur sunda adalah produk geodinamika regional. Sistem penunjaman sunda merupakan salah

satu contoh yang baik untuk menunjukkan hudungan geodinamika Indonesia dengan

geodinamika regional. Sistem penunjaman sunda berawal dari sebelah barat Sumba, yang

menerus ke Bali, Jawa, dan Sumatera sepanjang 3.700 km, serta berlanjut ke Andaman-Nicobar

dan Burma. Busur ini menunjukkan morfologi berupa palung, pungung muka busur, cekungan

muka busur, dan busur vulkanik. Arah penunjaman menunjukkan beberapa variasi, yaitu relatif

menunjam tegak lurus di Sumba dan Jawa serta menunjam miring di sepanjang Sumatera,

kepulauan Andaman, dan Burma. Kemiringan ini terjadi karena adanya oerbedaan arah gerak

dengan arah tunjaman yang tidak 90
o
. sistem penunjaman Sunda ini merupaka tipe busur tepi

kontinen sekaligus busur kepulauan, yang berlangsung selama Kenozikum Tengah-Akhir (Katili,

1989). Menurut Hamilton (1979) Palung Sunda bukan menunjukkan batas litosfer Samudera

India, tetapi meupakan salahsatu jejak sistem pnunjaman busur Sunda.

Busur vulkanik yang sekarang aktif di atas zona Benioff berada ada kedalaman 100-300 km.

Jalur magmatik ini berubah dari kecenderungan bersifat kontinen diSumatera, transisional di

Jawa ke busur kepulauan (oceanic island arc) di Bali dan Lombok. Komposisi ulkanik muda

bervariasi secara sistematis yang berkesesuaian antara karakter litosfer dengan magma yang

dierupsikan.

Berdasaran karakteristik morfologi, ketebalam emdapan palung busur dan arah penunjaman,

busur Sunda dibagi menjadi beberapa propinsi. Dari timur ke barat terdiri dari Propinsi Jawa,

Sumatera Selatan dan Tengah, Sumatera Utara – Nicobar, Andaman, dan Burma. Di antara

Propinsi jawa dan Sumatera Tengah – Selatan terdapat Selat Sunda yag merupakan batas

tenggara lempeng Burma.

Page 3

Propinsi Jawa bermula dari Sumba sampai Selat Sunda . di propinsi ini palung Sunda

mempunyai kedalaman lebih dari 6.000 m. Saat ini konvergensi sepanjang Propinsi Jawa

mencapai 7,5 cm pertahun dengan sudut penunjaman antara 5
o

- 8
o
. Sedimen memiliki ketebalan

antara 200-900 m . imbrikasi di bawah punggung mka busur mempunyai ketebalan leih dari 10

km. Palung hanya berisi sedmen tipis dengan sedikit sedimen pelagis.

Kerangka tektonik utama antara Jawa dan Sumatera secara umum dipotong oleh Selat Sunda

yang dianggap sebagai zona diskkontinuitas. Selat Sunda adalah unsur utama pemisah Propinsi

Jawa dan Sumatera di busur Sunda. Selat ini diasusiansebagai batas tengara Lempeng Burma,

namun apabila diermati dari data geofisika, batas Jawa dan Sumatera terletak di sekitar Banten

dan Jawa Barat.

Propinsi Sumatera selatan dan Tengah mempunyai kedalaman palung yang berangsur menurun

dari 6.000-5.000 m. Sedimen dasar palung mempunyai ketebalan sekitar 2 km di utara dan 1 km

di selatan. Penunjaman miring dengan komponen penunjaman menurun ke utara antara 7-5,7 cm

pertahun. Komponen pergeseran lateral yang bekerja di lempeng ini diasumsikan sangat berperan

dalam embentuk sistem strike slip fault Sumatera.

Sedangkan di Propinsi Sumatera Utara – Nikobar, di sebelah barat Pulau Simeulue sumbu

panjang menajam ke barat, dan di barat-laut Pulau Simeulue cenderung ke utar – barat laut.

Palung mempunyai kedalaman berkisar antara 3.500-5.000 m. Pertemuan di sepanjang propinsi

ini sangat miring dan kecepatan penunjaman ke arah utara mengalami penurunan 5,6-4,1 cm

pertahun.

Di Pulau Andaman palung cenderung berarh utara-selatan dengan kedalaman sekitar 3.000m. Di

propinsi ini pertemuan lempeng sangat miring, dengan besar kisaran kecepatan penunjaman

berkisar antara 0,7-0,2 cm pertahun. Komponen lateral ini dipengaruhi leh pemekaran di laut

Andaman, dengan lepeng Burma memisah ke arah barat daya dari lempeng Eurasia.

Palng Burma mempunyai kedalaman kurang dari 3.000m. Disini punggungan muka busur

menjadi punggungan Indoburman dan cekung muka busur menjadi palung sebelah barat dari

Lembah Burma. Sudut penunjaman sangat miring dan ketebalan endapan di propinsi ini antara

8.00-10.000m. Komponen gerak lateral ini mempengaruhi terbentuknya sesar Sagaing di Burma.

Sesar Sumatera dan Pulau Sumatera merupakan prodk geodinamika Busur Sunda, keduanya

merupakan contoh rinci yang menarik untuk menunukkan akibat tektonik regional pada pola

tektonik lokal. Pulau Sumatera terusun atas dua bagian utama, sebelah barat didominasi oleh

keberadaan lempeng oseanik,sedangkan di sebelah timur didominasi oleh keberadaan lempeng

kontinen. Berdasarkan gaya gravitasi, magnetisme dan seismik diperoleh ketebalan oseanik

sekitar 20 km dan ketebalan lempeng kontinen sekitar 40 km (Hamilton, 1979)

Tatanan tektonik regional sangat mempengeruhi perkembangan busur Sunda. Di bagian barat,

pertemuan subduksi antar lempeng kontinen Eurasia dan lempeng oseanik Australia

mengkontruksikan busur Sunda sebagai istem busur tepi kontinen (epi-continent arc) yang relatif

stabil, sementara di bagian timur pertemuan subduksi antar lempeng oseanik Australia dan

lepeng-lempeng mikro Tersier mengkntribusikan sistem busur Sunda sebaai busur kepulauan

(island arc) yang lebih stabil.

Perbedaan sudut penunjaman antara Jawa dan Sumatera Selatan di busur Sunda mendorong pada

kesimpulan bahwa batsa busur Sunda yang mewakili sistem busur kepulauan dan busur tepi

kontinen terletak di Selat Sunda. Kesimpulan tersebut akan menyisakan pertanyaan, karena pola

kenampakkan anomali gaya berat menunjukkan bahwa pola struktur Jawa bagian barat yang

cenderung lebih sesuai dengan pola Sumatera dibanding dengan pola struktur Jawa bagian timur.

Secara vertikal perkembangan struktur masih menyisakan permasalahan namun jikan dilakukan

Similer Documents