Download Stephen Covey – The 8th Habit PDF

TitleStephen Covey – The 8th Habit
Tags
LanguageEnglish
File Size2.9 MB
Total Pages293
Table of Contents
                            8th_habit_bag1_pdf
8th_habit_bag2_pdf
                        
Document Text Contents
Page 2

THE 8th

HABIT
Melampaui Efektivitas,

Menggapai Keagungan

Page 146

THE 8 T H HABIT

bagaimana menghadapi perbedaan-perbedaan antarmanusia. Coba

lihat tantangan yang Anda hadapi—bukankah demikian? Bagaimana

jika Anda memiliki karakter dan KEAHLIAN untuk menyelesaikan

perbedaan secara sinergis—yakni dengan menemukan solusi yang

lebih baik daripada yang telah diusulkan oleh masing-masing pihak?

Kapasitas dan kemampuan untuk menghasilkan solusi sinergis atau

kerja sama kreatif semacam itu, dibangun di atas fondasi kewibawaan

moral pada tingkat pribadi dan kepercayaan dalam hubungan.

SAYA PERNAH MENDENGAR cucu perempuan Gandhi, Arun

Gandhi, berbagi wawasan yang amat mendalam mengenai kakeknya.

Semua orang yang mendengarkan pembicaraannya menjadi rendah

hati sekaligus tersentak:

Ironisnya, jika tidak ada rasisme dan prasangka, kita mungkin tak

akan memiliki seorang Gandhi. Dia mungkin hanya akan menjadi

salah satu dari sekian banyak pengacara sukses yang punya banyak

uang. Tetapi, karena prasangka ras yang terjadi di Afrika Selatan,

martabatnya dilecehkan selama seminggu sejak kedatangannya. Dia

dilempar keluar dari kereta api karena warna kulitnya, dan hal itu

amat merendahkan martabatnya, sampai-sampai dia duduk di peron

stasiun sepanjang malam, memikirkan bagaimana dia bisa men-

dapatkan keadilan. Respons pertamanya adalah kemarahan. Dia

amat marah sehingga dia menginginkan keadilan model balas den-

dam. Dia ingin membalas dengan kekerasan pada orang yang telah

merendahkannya. Tetapi dia menghentikan dirinya sendiri dan

berkata, "Ini tidak benar." Hal tersebut tidak akan memberikan

keadilan baginya. Hal tersebut mungkin membuat dia merasa senang

untuk sesaat, tetapi tidak akan memberikan keadilan apa pun bagi-

nya.

Responsnya yang kedua adalah ingin kembali ke India dan

hidup di antara kaumnya sendiri dengan penuh rasa hormat. Dia

juga mencoret pilihan tersebut. Dia mengatakan, "Kamu tidak bisa

— 276 —

Menyatukan Suara: Mencari Alternatif Ketiga

melarikan diri dari masalah. Kamu harus tetap tinggal dan meng-

hadapi masalah." Dan itulah saatnya respons ketiga mulai tersingkap

dalam dirinya—respons aksi tanpa kekerasan. Sejak saat itu, dia

mengembangkan falsafah ahimsa, hidup tanpa kekerasan dan men-

jalaninya dalam hidup maupun dalam upayanya untuk mencari

keadilan di Afrika Selatan. Dia akhirnya tinggal di negara itu selama

dua puluh dua tahun, dan barulah dia pergi dan memimpin per-

gerakan di India.2

Alternatif Ketiga bukanlah cara saya, bukanlah cara Anda,

melainkan cara kita bersama. Alternatif ketiga bukanlah kompromi

di tengah-tengah antara cara Anda dan cara saya; melainkan sesuatu

yang lebih baik daripada kompromi. Alternatif ketiga sama dengan

apa yang disebut oleh orang Buddha sebagai jalan tengah—sebuah

posisi tengah yang lebih tinggi dan lebih baik daripada kedua cara

yang ada sebelumnya, seperti ujung atas dari sebuah segitiga.

Alternatif Ketiga adalah sebuah alternatif yang lebih baik daripada

semua alternatif yang telah diusulkan. Alternatif itu merupakan

hasil dari upaya kreatif sepenuh hati. Alternatif itu muncul karena

mereka bersedia menghadapi risiko untuk terluka dengan cara

membuka diri, sudi mendengarkan, dan mencari yang lebih baik.

Masing-masing sama sekali tidak tahu apa yang akhirnya akan bisa

dicapai. Anda hanya tahu bahwa proses itu akan mencapai sesuatu

yang lebih baik daripada apa yang telah dicapai sekarang. Isinya

bisa berubah, semangatnya bisa berubah, motifnya bisa berubah,

bahkan dua atau tiga hal sekaligus bisa berubah—dan pasti ada

yang berubah.

Seperti terjadi pada Gandhi, Alternatif Ketiga biasanya dimulai

di dalam diri salah satu pihak yang terlibat. Tetapi, sering hal itu

memerlukan kekuatan lingkungan sekitar, misalnya adanya seseorang

yang menentang Anda, sebelum hal itu benar-benar tertanam lebih

kuat di dalam diri Anda. Apakah Anda melihat dalam kutipan dari

cucu perempuan Gandhi tersebut, bagaimana tarik-menarik antara

— 277 —

Page 147

THE 8 T H HABIT

pergumulan di dalam diri dan hubungan antarpribadinya? Gandhi

harus lebih dulu melakukan pekerjaan pribadi yang cukup banyak

sebelum bisa menghadapi berbagai tantangan berkaitan dengan

hubungannya dengan lingkungan sekitar.

HANYA PERLU SATU ORANG:

POLA PIKIR MENCARI ALTERNATIF KETIGA

Seperti halnya melakukan dua puluh push-up merupakan analogi

a tau metafora fisik bagi keberhasi lan pribadi, saya senang

menggunakan metafora adu panco. Untuk menggambarkan pola

pikir maupun kemampuan yang diperlukan untuk mencari dan

mencapai Alternatif Ketiga yang sesungguhnya, dalam lokakarya

saya biasanya saya minta para peserta untuk mengajukan seorang

"sukarelawan" yang amat kuat dengan tinggi badan lebih dari 190

cm untuk melawan saya dalam adu panco di depan semua peserta.

Saat orang tersebut sedang dibujuk dan kemudian berjalan ke depan,

saya dengan arogan mengatakan kepada orang tersebut untuk ber-

siap-siap kalah. Saya membual mengenai kemampuan, kekuatan

dan sabuk hitam yang saya miliki. Pada saat dia benar-benar sampai

di depan, saya mengatakan kepadanya untuk mengulangi kata-kata

berikut, "Saya adalah seorang pecundang!" Sebagian besar bersedia

untuk melakukannya. Saya mengatakan pada orang bertubuh sebesar

monster ini bahwa yang penting bukan ukuran tubuh, tetapi teknik,

dan saya menguasai tekniknya, sementara dia tidak. Saya sengaja

bersikap sombong dan sinis. Seperti yang saya inginkan, simpati

para peserta beralih kepada lawan saya.

Kami kemudian mengambil posisi adu panco dengan kaki kanan

ditempelkan ke kaki kanan lawan dan saling menggenggam tangan.

Lalu saya bertanya kepada orang-orang yang mengajukan "suka-

relawan" mereka itu, apakah mereka bersedia untuk mendanai

pertandingan ini. Dengan kata lain, jika dia bisa menekan tangan

saya sampai mendatar sama dengan posisi siku, mereka akan

membayar dia satu dolar, dan jika saya yang mengalahkan dia,

— 278 —

Menyatukan Suara: Mencari Alternatif Ketiga

maka saya akan menerima satu dolar. Mereka selalu setuju. Lalu

saya meminta seseorang yang duduk di dekat situ untuk menjadi

penghitung waktu. Dia akan bertindak sebagai wasit, dengan

memberi tahu kapan kami harus mulai, memberi waktu satu menit

bagi kami untuk beradu panco, menghitung berapa kali dia menga-

lahkan saya atau saya mengalahkan dia.

Wasit memerintahkan kami untuk mulai. Saya langsung me-

lemaskan tangan, dan dia mengalahkan saya. Dan biasanya dia amat

terkejut dan bertanya-tanya mengapa saya sama sekali tidak me-

lawan. Dia heran mengenai apa yang terjadi. Jadi kami kembali ke

posisi awal lagi, dan saya membiarkan dia untuk mengalahkan saya

lagi. Dan mungkin lagi. Dan lagi. Dia selalu mengharapkan adanya

perlawanan. Dia biasanya mulai merasa agak bersalah, jangan-jangan

dia berlaku tidak adil.

Lalu saya mengatakan padanya, "Anda tahu, yang akan bisa mem-

buat Anda merasa enak adalah kalau kita berdua menang sebanyak

mungkin." Dia biasanya mulai berpikir, tetapi karena saya sudah

memojokkan dia sebelum pertandingan dimulai, dia tidak tahu

apakah dia bisa mempercayai saya. Mungkin itu sekadar kata-kata

manis—bagaimana jika rencana saya yang sebenarnya adalah mau

memelintir atau memanipulasi dia untuk keuntungan saya? Tetapi

saat saya terus membiarkan dia untuk menang tanpa perlawanan

sama sekali, hati nuraninya biasanya membenarkan kata-kata saya

tadi, dan dia menjadi terbuka pada saran saya bahwa jika kita berdua

menang, kita berdua akan menang lebih banyak lagi. Pada akhirnya,

sekalipun dengan sedikit menggerutu, enggan, dan dengan agak

susah payah, lawan saya biasanya bersedia untuk membiarkan saya

menang satu kali.

Lalu kami akan kembali lagi ke posisi awal. Lalu saya membiarkan

dia menang tanpa perlawanan. Dan dalam beberapa detik berikutnya,

dia mulai bergerak maju dan mundur tanpa perlawanan sama sekali.

Kadang-kadang beberapa sukarelawan masih bertanya-tanya dan

heran mengenai apa yang terjadi. Mereka terus berusaha untuk

— 279 —

Page 292

Lampiran 8

Dalam fabel ini ada sebuah prinsip penting untuk kinerja organi-

sasi. Kinerja unggul yang bisa bertahan terus-menerus adalah hasil

dari dua hal: apa yang dihasilkan (telur-telur emas) dan kemampuan

untuk menghasilkannya (angsa).

Jika organisasi hanya berfokus untuk menghasilkan telur-telur

emas (mencapai hasil-hasil yang dituntut hari ini) dan mengabaikan

angsa (membangun kapabilitas untuk mencapai hasil-hasil di masa

mendatang), dalam waktu singkat mereka akan kehilangan aset

yang menghasilkan telur-telur emas tersebut. Di sisi lain, jika orga-

nisasi hanya memperhatikan angsa tanpa tujuan untuk menghasilkan

telur-telur emas, dalam waktu singkat mereka tidak akan punya

apa-apa untuk memberi makan angsa tersebut. Kuncinya terletak

pada keseimbangan.

Mungkin organisasi Anda tampak seperti ini:

Saat dihadapkan dengan tekanan untuk memberikan hasil, kami

memberikan segala yang diperlukan. Kami menciptakan sebuah

program untuk menggerakkan pasukan dan mendorong setiap

orang untuk mencapai sasaran yang mendesak tersebut. Pada saat

tertentu sasarannya mungkin adalah target penjualan. Krisis yang

lain mungkin adalah target pengurangan biaya. Di waktu yang

lain mungkin hal lainnya lagi. Kami terus-menerus bersikap reaktif,

bergerak tanpa henti dari satu "sasaran kritis" atau "inisiatif darurat"

ke kondisi lainnya yang serupa. Masalahnya adalah kami selalu

kurang berinvestasi pada manusia, proses atau peralatan yang kami

perlukan untuk benar-benar meningkatkan bisnis kami. Sebagai

hasilnya, kami tidak pernah bisa mencapai ritme kinerja yang

konsisten.

Atau organisasi Anda tampak seperti ini:

Kami berinvestasi amat besar pada manusia dan budaya selama

bertahun-tahun. Dasar pemikiran yang kami pakai adalah bahwa

orang-orang yang hebat dan berbakat, dengan sistem-sistem dan

— 568 —

Lampiran 8

teknologi terbaik, secara otomatis akan menghasilkan kinerja unggul

yang berkelanjutan. Perusahaan kami merupakan tempat yang amat

menyenangkan untuk bekerja, tetapi kemudian masa-masa sulit

harus kami hadapi. Kami menemukan bahwa kami tidak benar-

benar memiliki kemampuan untuk menghadapi kompetisi yang

sengit dan kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan. Kami

dipaksa untuk memotong semua investasi yang telah biasa dinikmati

oleh orang-orang selama masa-masa keemasan kami. Orang-orang

di dalam perusahaan menjadi kehilangan kepercayaan, semangat

merosot drastis dan banyak orang terbaik kami meninggalkan per-

usahaan.

FranklinCovey telah mempelajari sendiri pelajaran ini dengan

cara yang menyakitkan, karena kami sendiri juga telah mengabaikan

keseimbangan antara produksi dan kemampuan produksi ini di masa

lalu. Karena itu pelajaran ini telah menjadi sebuah pembelajaran

"yang dialami secara langsung" dan pendekatan kami memiliki dasar

keyakinan yang lebih kuat, lebih dari sekadar landasan teori.

Di FranklinCovey, kami melakukan pendekatan terhadap keingin-

an untuk mencapai kinerja unggul terus menerus dari kedua sisi.

Kami membantu berbagai organisasi untuk berfokus dan meng-

hasilkan hasil-hasil yang diharapkan. Kami juga membantu mereka

untuk meningkatkan kemampuan para pemimpin dan kontributor

individual sehingga bisa memberikan kinerja yang prima.

Di dalam kedua sisi ini (Mencapai Hasil dan Membangun

Kapabilitas), FranklinCovey bekerja dengan klien dalam tiga jenis

"tugas yang harus diselesaikan." Ketiganya mewakili tiga bidang

inti keagungan yang terdapat dalam Kebiasaan ke-8: keagungan

organisasi, keagungan kepemimpinan dan keagungan pribadi.

— 569 —

Page 293

Lampiran 8

Mencapai Hasil

Tugas 1. Melaksanakan Prioritas Prioritas Panting. Kami membantu para klien untuk mencapai
hastl-hasil yang telah ditetapkan, seperti meningkatkan penjualan, mengimplementasikan
inisiatif-inisiatif organisasi atau meningkatkan kualitas, dengan meningkatkan komitmen
dan kejelasan terhadap prioritas-prioritas utama, serta membangun proses-proses pelaksanaan
untuk mencapai prioritas-prioritas ini. Hal ini akan membangun keagungan organisasi.

Membangun Kapabilitas

Tugas 2. Pengembangan Kepemimpinan dan Manajemen. Kami membantu para klien untuk
membangun kepemimpinan yang bertahan lama berdasar karakter, membangun tim dan
kemampuan untuk mencapai hastl-hasil yang unggul. Hal ini akan membangun keagungan
kepemimpinan.

Tugas 3. Efektivitas Individu. Kami membantu organisasi untuk meningkatkan pengetahuan,
keahlian dan kinerja pribadi dari angkatan kerja mereka, untuk mencapai hasil-hasil yang
lebih besar sebagai individu dan tim. Hal ini akan membangun keagungan pribadi.

GAMBAR A8.1

— 570 —

Lampiran 8

Pikirkan sejenak mengenai bagaimana cara Anda membangun
sebuah tim olahraga yang harus bertanding di dalam kompetisi
yang sengit. Dengan memberikan investasi pada kualitas dan pem-
bentukan atlet, tim Anda akan semakin meningkat permainannya.
Pemain-pemain yang lebih berkualitas akan membangun tim yang
lebih baik. Pada saat yang sama, sebagus apa pun pemain-pemain-
nya secara individual, tim tersebut hanya akan menang jika mereka
bisa bekerja bersama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan
secara terus-menerus "melaksanakan permainan" dengan penuh ke-
sempurnaan.

Apa yang Anda inginkan adalah para pemain yang hebat dan
pelaksanaan yang hebat. Sebuah tim yang sanggup memberikan
kinerja secara konsisten dari musim ke musim. Ini adalah inti dari
pendekatan FranklinCovey: menerjemahkan kapabilitas organisasi
menjadi hasil-hasil spesifik secara berkelanjutan, yang akan meng-
hasilkan sebuah organisasi yang unggul.

— 571 —

Similer Documents