Download Pendekar Wanita Buta Novel 7 Manusia Harimau PDF

TitlePendekar Wanita Buta Novel 7 Manusia Harimau
File Size507.7 KB
Total Pages68
Table of Contents
                            Pg1
Pg2
Pg3
Pg4
Pg5
Pg6
Pg7
Pg8
Pg9
Pg10
Pg11
Pg12
Pg13
Pg14
Pg15
Pg16
Pg17
Pg18
Pg19
Pg20
Pg21
Pg22
Pg23
Pg24
Pg25
Pg26
Pg27
Pg28
Pg29
Pg30
Pg31
Pg32
Pg33
Pg34
Pg35
Pg36
Pg37
Pg38
Pg39
Pg40
Pg41
Pg42
Pg43
Pg44
Pg45
Pg46
Pg47
Pg48
Pg49
Pg50
Pg51
Pg52
Pg53
Pg54
Pg55
Pg56
Pg57
Pg58
Pg59
Pg60
Pg61
Pg62
Pg63
Pg64
Pg65
Pg66
Pg67
Pg68
                        
Document Text Contents
Page 1

@www.wartainfo.com

Serial Tujuh Manusia Harimau (7)

Pendekar Wanita Buta

Motinggo Busye





Episode 1 Pendekar Wanita Buta

Semuanya di luar dugaan orang banyak, Ki Putih Kelabu mengirimkan undangan kepada beberapa orang

yang disegani di Kumayan. Orang mengira, undangan itu adalah pemberitahuan pertunangan Ki Pita Loka

dengan Guru Gumara.



Nyatanya hanya sebuah undangan syukuran belaka. Guru Gumara juga diundang, dan dia datang
mengenakan kemeja putih, juga terjadi hal di luar dugaan, karena Ki Putih Kelabu yang dikenal
pendiam itu ternyata pandai berpidato.



“Saya dengan segala kerendahan hati ingm mengingatkan lagi kepada anda, bahwa keluarga kami

mewaris sifat pema‟af. Tidak berdendam dan tidak menyukai permusuhan. Kami sudah berusaha

meghindari segala pertikaian dengan siapapun. Karena usaha itu, anak kami Pita Loka harus

menelan penderitaan kebutaan sebelah matanya yang tidak dapat dipersalahkan kepada satu orang pun.

Saya ulangi, kami tidak menyalahkan siapa - siapa. Karena itu siapapun yang menganggap

dirinya bersalah, harap lupakan seluruh kejadian sebab tidak satupun peristiwa yang berdiri sendiri. Mari

kita belajar dari dalam semesta, di mana satu perpindahan bintang hanyalah karena mengikuti aturan

kemestian sejak awal kejadian. Gunung yang meletus tidak berdaya menolak takdir, lalu

lahar dingin seolah menganggu tanah pertanian. Tapi ini semua menjadi modal kesuburan anak

cucu di kemudian hari, yang mewarisi kesuburan tanah.



Jadi, gunung yang meletus lahar yang mengalir, hanyalah tunduk dengan aturan alam semesta. Yang

senantiasa bandel itu, hanyalah kita manusia. Tapi tentu ada manusia yang selamat karena ikut dalam

aturan semesta. Maka, barang siapa yang mencari dan mendapatkan Sufia, dialah yang selamat dan kebal
atas keruntuhan….”


Ki Putih Kelabu rupanya sudah mengakhiri pidatonya. Guru Gumara mencoba memahami kalimat
terakhir guru yang rendah hati itu.


Apa itu Sufia?



Setiba di rumah, Gumara membongkar kembali Kitab Tujuh. Dia membaca semua huruf gundul di

Kitab itu. Namun dia tidak menemukan perkataan Sufia. Gumara yakin itu sejenis ilmu. Bukan

kitab. Dicobanya merenungi kembali ucapan Guru Putih Kelabu diakhir pidatonya: ”Maka, barang
siapa yang mencari dan mendapatkan Sufia, dialah yang selamat dan kebal atas keruntuhan.”


Jika Gumara membongkarnya dalam lembaran Kitab Tujuh, maka Pita Loka menanyakan hal itu
kepada sang Ayah.


“Apa itu Sufia, ayah?” tanyanya.



“Aku pun tidak tahu. Ucapan itu Kami warisi dari Guru, dan Guru mewarisinya dari gurunya pula.”

Page 2

@www.wartainfo.com

“Saya menganggapnya begitu penting. Tiap soal yang menarik perhatian manusia, lalu

mendapatkan jawabannya, lantas hal itu tidak penting lagi. Ketika Thomas Alva Edison

menemukan listrik, orang mempertanyakan cahaya pijar itu. Tetapi sekarang listrik bukan barang
mewah lagi. Tapi jika ada satu soal seperti Sufia dipertanyakan, tapi tidak dapat jawaban, itu pertanda
masalah itu penting dan bermutu tinggi.”


Pita Loka kecewa karena ayahnya hanya berdiam diri. Pagi harinya, ketika Pita Loka mau berangkat
ke sekolah, ada tamu. Tamu itu Ki Lading Ganda yang bartanya,”Bisakah bicara sejenak dengan Ki
Guru?”



Ki Putih Kelabu muncul dan mempersilahkan anggota Harimau Kumayan itu duduk di tikar

permadani.

Pita Loka kembali ke kamar, dengan maksud mendengar percakapan antara ayahnya dan

sahabatnya itu.



“Di antara kita tidak perlu ada rahasia. Coba terangkan padaku, apa itu Sufia?”

“Jangan berkecil hati, Guru Lading Ganda. Saya tidak mengetahuinya,” jawab Ki Putih Kelabu.

“Darimana kau perdapat kata ajaib itu?”

“Dari Guru. Aku pernah mempertanyakannya seperti kau mempertanyakannya sekarang ini,

padaku. Tapi Guru hanya menyatakan, itu beliau dengar dari gurunya.” ujar Ki Lading Anda pergi

mencegat Ki Gumara yang akan berangkat mengajar di SMA.

“Tentu anda mengetahui apa itu Sufia, Guru!” ujar Ki Lading Ganda.

“Maaf. Sama sekali tidak.”

“Tampaknya itu wasiat penting. Ki Putih Kelabu tidak suka bicara, tapi kali ini dia bicara. Kau yang ahli

takwil, coba terangkan padaku apa takwil ini semua?”

“Jika itu yang Guru tanyakah pada saya, saya sekedar dapat memahami. Kira-kira sebentar lagi

akan muncul huru-hara di Kumayan ini. Biasanya, hanya orang berilmu yang selamat atas huru -

hara, karena orang berilmu pandai membaca keadaan. Itulah tugas kita; Membaca keadaan. Suasana



Serial Tujuh Manusia Harimau (7) - Episode 2
Pendekar Wanita Buta




Ki Lading Ganda bertanya lagi; “Huru-hara itu tentulah ada penyebabnya. Besar kemungkinan
kekacauan ini mungkin datangnya dari pihak yang berbicara.”



“Maksud Tuan Guru, Ki Putih Kelabu akan membalas padanya?”

“Semua orang bilang, Guru Gumara yang membuat puterinya buta,” kata Ki Lading Ganda.

“Ah, itu perasaan Tuan Guru saja,” ujar Guru Gumara.

Page 67

@www.wartainfo.com


“O, begitu dia mengadu? Persetan sama dia!” ujar Pita Loka.

“Baiklah. Tapi andaikata aku yang memberi saran, agar kau sudi mengobati Harwati? Apakah kau akan

mempersetankan saya?”



Pita Loka terdiam sejenak, terbelenggu oleh rasa hormat pada Ki Jengger, tapi dia pun tersinggung. Dia
buka kalung Permata Hijau Solaiman dari lehernya, dan disodorkannya pada Ki Jengger; “Ini hadiah tuan

untuk saya, guna menyembuhkan orang gila. Jika dulu tuan tidak ikhlas memberikan pada saya, silakan
tuan ambil kembali.”



“Kenapa kau mendadak marah?”

“Maaf, Tuan Guru. Saya bukan saja marah, tetapi saya merasa terhina.” “Apa

aku menghinamu?” tanya Ki Jengger.

“Jika Permata keramat ini sudah diberikan ikhlas buatku, ini sudah menjadi milikku. Kurasa aku bebas

untuk menentukan untuk keperluan apa barang keramat ini. Maaf, tuan Guru, mungkin saya satu-satunya

orang di sini yang tidak sudi diperbudak anda, meski benda keramat sekalipun. Bahkan saya tidak sudi

diperbudak oleh diri saya sendiri.”



Sejenak Ki Jengger terpana.

“Kini akulah yang kau buat malu dan hina. Memang permata itu sudah milikmu. Kau bebas untuk sudi

mengobati Harwati atau tak sudi. Tapi silsilah Tujuh Manusia Harimau, antara lain, rahasianya di benda

ini, anakku! Apakah kau ingin buta sepanjang masa?”

“Saya siap untuk buta sebelah mata saya sepanjang masa. Asal saya bebas memilih apa yang saya

kehendaki,” kata Pita Loka mantap.

“Kebutaamu itu bisa sembuh apabila kau bisa menyembuhkan sakit gila Harwati.”

“Ha?” Pita Loka tercengang.

“Kalau kau menyembuhkan sakit gila Harwati, silsilah akan terangkai, karena Permata Hitam

Solaiman yang dimiliki Gumara mampu menyembuhkan kebutaanmu. Ini semua ada dalam silsilah
sejarah. Kini kamu tinggal memilih, mau selamanya buta dengan menolak menyembuhkan gila Harwati,
atau mengalah.”



Ki Putih Kelabu yang rupanya mendengarkan perdebatan itu lantas berkata menengahi; “Boleh aku bicara

sekedar mencari titik temu perdebatan ini?”

“Silakan Ki Putih Kelabu,” ujar Ki Jengger.



“Aku bicara bukan sebagai ayah, tapi sebagai satu diri. Begini, Pita Loka. Saya cuma ingin melihat agar
dua biji matamu itu kembali seperti sediakala. Aku menghargai kekerasan hatimu. Itu martabat seorang

pendekar. Tapi pernahkah kau dengar seorang pendekar akan selalu menang berkelahi? Tentu dia pernah

kalah. Mau mengalah.”



Pita Loka menatap ke wajah ayahnya. Dia lalu merangkul,tepat ketika munculnya Gumara. Padahal

Gumara sudah mendengar seluruh soal jawab tadi dari balik lapau.

Similer Documents