Download Panduan Perlindungan Pasien Terhadap Kekerasan Fisik 2 PDF

TitlePanduan Perlindungan Pasien Terhadap Kekerasan Fisik 2
File Size141.3 KB
Total Pages8
Document Text Contents
Page 2

http://id.wikipedia.org/wiki/Hipoksia
http://id.wikipedia.org/wiki/Stroke
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_saraf_pusat
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keracunan&action=edit&redlink=1
http://id.wikipedia.org/wiki/Cahaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Sakit

Page 3

Page 3 of 8

PANDUAN PERLINDUNGAN PASIEN TERHADAP KEKERASAN FISIK
RUMAH SAKIT BETHSAIDA

farmasentika untuk mempertahankan fungsi otak setelah
timbulnya trauma otak.

BAB II
RUANG LINGKUP

Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan bagi berbagai variasi
pasien dengan berbagai variasi kebutuhan pelayanan kesehatan.
Beberapa pasien dapat digolongkan kedalam kelompok yang beresiko
tinggi karena umur, kondisi atau kebutuhan yang bersifat kritis. Untuk
itu Rumah Sakit berupaya mencegah dan bertanggung jawab
melindungi pasien dari kekerasan fisik yang tiba-tiba oleh pengunjung,
pasien lain dan staf rumah sakit. Ada beberapa kelompok pasien yang
menjadi prioritas utama bagi Rumah Sakit Bethsaida dalam mencegah
kekerasan yang bersifat tiba-tiba, kelompok pasien tersebut adalah :
1. Bayi baru lahir (Neonatus) dan Anak – Anak Kekerasan terhadap

bayi meliputi semua bentuk tindakan / perlakuan menyakitkan
secara fisik, pelayanan medis yang tidak standar seperti inkubator
yang tidak layak pakai, penculikan, bayi tertukar dan penelantaran
bayi. Menurut data dari Kementrian Kesehatan Kasus penculikan
bayi menujukkan peningkatan dari 72 kasus di tahun 2011 menjadi
102 di tahun 2012, diantaranya 25% terjadi di rumah sakit, rumah
bersalin, dan puskesmas.

2. Kekerasan pada anak (child abuse) di rumah sakit adalah perlakuan
kasar yang dapat menimbulkan penderitaan, kesengsaraan,
penganiayaan fisik, seksual, penelantara (ditinggal oleh
orangtuanya di rumah sakit), maupun emosional, yang diperoleh
dari orang dewasa yang ada dilingkungan rumah sakit. Hal tersebut
mungkin dilakukan oleh orang tuanya sendiri, pasien lain atau
pengunjung atau oleh staf rumah sakit. Terjadinya kekerasan fisik
adalah dengan penggunaan kekuasaan atau otoritasnya, terhadap
anak yang tidak berdaya yang seharusnya diberikan perlindungan.

3. Lansia dalam kehidupan sosial, kita mengenal adanya kelompok
rentan, yaitu semua orang yang menghadapi hambatan atau
keterbatasan dalam menikmati standar kehidupan yang layak bagi
kemanusiaan dan berlaku umum bagi suatu masyarakat yang
berperadaban. Salah satu contoh kelompok rentan tersebut adalah
orang-orang lanjut usia (lansia). Ternyata, walau sudah memiliki
keterbatasan, lansia juga rentan terhadap kekerasan. Menurut

http://id.wikipedia.org/wiki/Otak

Page 4

Page 4 of 8

PANDUAN PERLINDUNGAN PASIEN TERHADAP KEKERASAN FISIK
RUMAH SAKIT BETHSAIDA

statistik, lebih dari dua juta lansia mengalami kekerasan setiap
tahunnya.
Kekerasan pada lansia adalah suatu kondisi ketika seorang lansia
mengalami kekerasan oleh orang lain. Dalam banyak kasus,
kekerasan fisik datang dari orang-orang yang mereka percayai.
Karenanya, mencegah kekerasan pada lansia dan meningkatkan
kesadaran akan hal ini, menjadi suatu tugas yang sulit. Statistik
dari Dinas Pelayanan di New Zealand menunjukkan bahwa
kebanyakan, orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap
lansia, merupakan anggota keluarga atau orang yang berada pada
posisi yang mereka percayai, seperti: pasangan hidup, anak,
menantu, saudara, cucu, ataupun perawat.
Kekerasan fisik pada lansia di rumah sakit, yaitu bisa berupa
perkosaan, pemukulan, dipermalukan/ diancam seperti anak kecil,
diabaikan / diterlantarkan, atau mendapatkan perawatan yang
tidak standar.

4. Kekerasan pada Perempuan. Kekerasan di rumah sakit dapat
berupa perkosaan, yaitu hubungan seksual yang dilakukan
seseorang atau lebih tanpa persetujuan korbannya. Namun
perkosaan tidak semata-mata sebuah serangan seksual akibat
pelampiasan dari rasa marah, bisa juga disebabkan karena godaan
yang timbul sesaat seperti melihat bagian tubuh pasien wanita
yang tidak ditutupi pakaian atau selimut, mengintip pasien pada
saat mandi dan sebagainya.

5. Orang dengan gangguan jiwa. Pasien dengan gangguan jiwa
terkadang tidak bisa mengendalikan perilakunya, sehingga pasien
tersebut perlu dilakukan tindakan pembatasan gerak (restrain) atau
menempatkan pasien di kamar isolasi. Tindakan ini bertujuan agar
pasien dibatasi pergerakannya karena dapat mencederai orang lain
atau dicederai orang lain, Bila tindakan isolasi tidak bermanfaat
dan perilaku pasien tetap berbahaya, berpotensi melukai diri
sendiri atau orang lain maka alternatif lain adalah dengan
melakukan pengekangan/pengikatan fisik (restrain). Kekerasan fisik
pada pasien jiwa yang dilakukan restrain di rumah sakit, bisa
disebabkan oleh tindakan restrain yang tidak sesuai prosedur, atau
menggunakan pengikat yang tidak standar. Selain itu, pasien jiwa
yang dilakukan restrain mudah menerima kekerasan fisik, baik dari
pengunjung lain, sesama pasien jiwa, maupun oleh tenaga medis.
Hal ini disebabkan oleh karena kondisi pasien yang “ terikat “
sehingga mudah mendapatkan serangan.

6. Pasien koma. Kekerasan fisik bagi pasien yang koma di rumah sakit,
bisa disebabkan oleh pemberian asuhan medis yang tidak standar,
penelantaran oleh perawat, diperlakukan secara kasar oleh tenaga
kesehatan yang bertugas sampai pada menghentikan bantuan
hidup dasar pada pasien tanpa persetujuan keluarga/wali

Similer Documents