Download materi 6 PDF

Titlemateri 6
File Size308.4 KB
Total Pages12
Document Text Contents
Page 6

6


Kemudian ia berpindah ke meja rolet dan kembali mempertaruhkan seluruh uangnya

($1 juta). Di meja itu, uangnya ludes dan dia kembali ke kamar hotelnya. Temannya bertanya,

bagaimana keberuntungannya, dan jawabannya adalah, “Lumayanlah, aku kalah $5”.

Contoh di atas, kata Rowena Suryobroto, menunjukkan bahwa ketika jumlah uang

tidak tertulis di atas kertas dan hanya ‘tertulis’ pada mental seseorang, uang tersebut menjadi

tidak bernilai.

Ini contoh kedua: Oprah’s Show – sebuah talkshow paling populer di Amerika -

pernah menayangkan seorang pengemis yang menemukan uang $100.000. Sebagai orang yang

telah bekerja keras dan memiliki uang, Oprah berpikir bahwa lelaki pengemis itu pasti akan

menaruh uangnya di bank, mengambil bunganya setiap bulan dan hidup lumayan dengan bunga

tersebut. Itu juga dipikirkan para penontonnya. Pengemis tersebut kemudian mengakui bahwa ia

membeli dua mobil – satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya – dan menghabiskan $70.000.

Sisanya ia gunakan untuk pulang ke kampung halaman dan membagikannya kepada sanak

saudara untuk menunjukkan bahwa akhirnya ia memiliki uang dan sanaknya tidak boleh

menghinanya lagi. Dalam waktu kurang dari setahun, uang itu ludes berikut kedua mobilnya, dan

ia kembali mengemis di jalanan.

Pada kasus ini, menurut Rowena Suryobroto, bahwa faktor psikhologis sangat

menentukan keputusan keuangan seseorang.

Terkait dengan mental accounting, Rowena Suryobroto menambahkan, bahwa masih

banyak penelitian-penelitian dan eksperimen-eksperimen yang perlu dilakukan untuk

menentukan bagaimana keputusan keuangan individu dilakukan. Lebih jauh lagi, penelitian-

penelitian tersebut seharusnya menjadi fokus perusahaan-perusahaan berklien individu agar

mereka dapat melayani klien mereka dengan lebih baik.

Selanjutnya, akan disajikan dua kasus mental accounting, yakni yang pertama terkait

dengan ‘medana punia’, dan yang kedua tentang ‘pemanfaatan gaji ketiga belas’.

Ini ilustrasi tentang medana punia. Ada orang Bali, sebutlah namanya I Made Seleg.

Dia terbilang rajin sembayang. Dengan memiliki cukup uang, hampir setiap bulan ia berkeliling

di wilayah Bali, bahkan pernah sampai ke Jawa Timur dan Lombok untuk metirthayatra. Segera

setelah usai sembahyang, dengan ringan ia akan merogoh sakunya untuk ngaturang punia di

pura-pura yang dikunjungi. Tidak pernah dalam puluhan ribu, pasti dalam ratusan ribu, bahkan

kadang-kadang sampai pada bilangan jutaan rupiah walau tak ada orang yang memintanya

Page 11

http://kurniatynawawi.blogspot.co.id/2012/06/pengambilan-keputusan-dalam.html
http://economist-suweca.blogspot.co.id/2010/06/tinjauan-sekilas-tentang-mental.html
https://www.scribd.com/doc/218947288/Daniel-Kahneman-Dan-Amos-Tversky-Mengembangkan-Teori-Prospek-Pada-Tahun-1979-Sebagai-Psikologi-Deskripsi-Yang-Lebih-Akurat-Dalam-Pengambilan-Keputusan
https://www.scribd.com/doc/218947288/Daniel-Kahneman-Dan-Amos-Tversky-Mengembangkan-Teori-Prospek-Pada-Tahun-1979-Sebagai-Psikologi-Deskripsi-Yang-Lebih-Akurat-Dalam-Pengambilan-Keputusan
https://www.scribd.com/doc/218947288/Daniel-Kahneman-Dan-Amos-Tversky-Mengembangkan-Teori-Prospek-Pada-Tahun-1979-Sebagai-Psikologi-Deskripsi-Yang-Lebih-Akurat-Dalam-Pengambilan-Keputusan

Similer Documents