Download Jurnal CHF PDF

TitleJurnal CHF
File Size331.9 KB
Total Pages14
Document Text Contents
Page 8

8

didapatkan pada CHF yang parah. Hal ini sebagai akibat dari penurunan

perfusi renal dan retensi natrium dan air (Camn et al., 2007).



Tabel. NYHA functional class

Class Symptoms severity 1 year mortality

Class I No limitation. Ordinary physical activity does not cause

undue fatigue, dyspnea or palpitation

5-10%

Class II Slight limitation of physical activity. Comfortable at rest.

Ordinary physical activity causes fatigue, palpitation,

dyspnea or angina

10-15%

Class III Marked limitation of physical activity. Although comfortable

at rest, less than ordinary activity will lead to symptoms

15-20%

Class IV Inability to carry out any physical activity without

discomfort. Symptoms at rest, worsened by physical activity

20-50%



Tabel. Kriteria framingham untuk diagnosis congestive heart failure

Major Criteria Minor Criteria

PND or orthopnea Ankle edema

Neck vein distension Night cough

Lung crepitations Dyspnea on exertion

Cardiomegaly Hepatomegaly

S3 gallop Pleural effusion

Hepatojugular reflux Tachycardia >120bpm

Diagnosis: 2 Major or 1 major + 2 minor for diagnosis



Gambaran klinis relatif dipengaruhi oleh tiga faktor:

1.kerusakan jantung

2.kelebihan beban hemodinamik

3.mekanisme kompensasi sekunder yang timbul saat gagal jantung terjadi.

Pada awalnya mekanisme kompensasi bekerja efektif dalam

mempertahankan curah jantung dan gejala gagal jantung hanya timbul saat

aktifitas. Kemudian gejala timbul saat istirahat seiiring dengan perburukan

kondisi. Manifestasi klinis juga dipengaruhi oleh tingkat progresivitas penyakit

dan apakah terdapat waktu untuk berkembangnya mekanisme kompensasi.

Gagal jantung dapat mempengaruhi jantung kiri, jantung kanan, atau keduanya

(biventrikel), namun dalam praktik jantung kiri sering terkena.pasien sering

Page 13

13

aktivitas saraf simpatis, menurunkan sekresi aldosterone (sehingga

meningkatkan eksresi natrium), dan menurunkan sekresi vasopresin yang

semuanya berguna untuk penderita CHF.

Biasanya pengobatan dimulai dengan ACE-inhibitors yang short acting

seperti kaptopril dosis rendah yaitu 3 kali 6,25 mg atau 12,5 mg perhari,

atau enalapril 2 kali 2,5 mg perhari selama beberapa hari dibawah

pengawasan ketat (first dose effects), ekmudian dosis dinaikkan secara

bertahap.

b. Angiotensin Resepror Blockers (ARB)

ACE-inhibitors tidak mampu menghambat sebagian besar produksi

Angiotensi II, jadi dengan memblokade AT-1 reseptor, ARB diharapkan

dapat emnghambat sebagian besar efek negative dari sistem Renin-

Angiotensin-Aldosteron (RAA). Kombinasi antara ARB dan ACE-

inhibitors memiliki efek sinergis dalam mempengaruhi hemodinamik,

remodeling dan profil neurohormon.

c. Calcium Channel Blockers (CCB)

CCB dihidropiridin merupakan vasodilator kuat sehingga biasanya

diberikan pada pasien gagal jantung grade II yang tidak takikardi. CCB

yang long acting seperti amlodipin dan nifedipin GIT lebih baik karena

tidak mempresipitasikan refleks takikardi dan bermanfaat pada kasus yang

belum maupun yang sudah terjadi gangguan fungsi sistolik.



o Mencegah remodeling

Obat yang memiliki efek mencegah remodeling seperti ACE-inhibitors dan

ARB bermanfaat menghambat progresivitas CHF. Namun dosis yang

diberikan harus maksimal. Sebenarnya hampir semua obat antihipertensi

memiliki efek mencegah remodeling termasuk CCB, β blockers dan diuretik.



o Intervensi khusus

a. Revaskularisasi melalui PTCA atau cABG’S

Penyakit jantung Koroner masih merupakan penyebab utama CHF.

Apabila pada angiografi koroner ditemukan lesi yang cocok, maka PTCA

dan cABG’S, akan memperbaiki simptom dan menghambat progresivitas.

Similer Documents