Download bab ii tinjauan pustaka PDF

Titlebab ii tinjauan pustaka
LanguageEnglish
File Size204.6 KB
Total Pages41
Document Text Contents
Page 1

II - 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Sistem Transportasi Perkotaan


Sistem transportasi perkotaan dapat diartikan sebagai suatu kesatuan

menyeluruh yang terdiri dari komponen-komponen yang saling mendukung dan

bekerja sama dalam pengadaan transportasi pada wilayah perkotaan. Sistem

transportasi secara menyeluruh (makro) dapat dipecahkan menjadi beberapa

sistem yang lebih kecil (mikro) yang saling terkait dan saling mempengaruhi.

Sedangkan sistem transportasi mikro terdiri dari sistem kegiatan, sistem jaringan

prasarana transportasi, sistem pergerakan lalu lintas dan sistem kelembagaan.

















Gambar 2.1. Sistem Transportasi Makro (Tamin, 1997)


Sistem kelembagaan di Indonesia yang berkaitan dengan masalah

transportasi perkotaan adalah sebagai berikut:

1. Sistem kegiatan oleh Bappenas, Bappeda, Bangda, dan Pemda.

2. Sistem jaringan ditangani oleh Departemen Perhubungan dan Bina

Marga.

3. Sistem pergerakan ditangani oleh DLLAJ, Organda, Polantas, dan

masyarakat.



Sistem
Kegiatan

Sistem
Jaringan

Sistem
Pergerakan

Page 2

II - 2

2.2. Indikator Kinerja

Indikator kinerja adalah besaran kuantitatif yang menggambarkan kondisi

objektif dari sistem yang ditinjau dari suatu aspek tertentu. Dengan definisi

tersebut, maka sangat relevan untuk mengkaji definisi Indikator Kinerja yang

dapat menggambarkan kondisi objektif dari suatu sistem transportasi. Suatu

sistem transportasi pada dasarnya dapat dipilah menjadi beberapa komponen

berikut:

a. Prasarana/sarana transportasi

b. Sistem operasi

c. Pola dan intensitas pergerakan

d. Pola dan distribusi aktivitas

e. Organisasi dan kelembagaan

Satu komponen akan terkait dengan komponen lainnya secara langsung.

Interaksi tersebut pada gilirannya akan menghasilkan kondisi tertentu dari sistem

secara keseluruhan. Di lain pihak, masing-masing komponen dapat ditinjau

kondisinya secara individual. Dengan pendekatan ini kita dapat merumuskan

indikator kinerja ditinjau dari dua tujuan, yaitu:

– Indikator kinerja yang menggambarkan kondisi objektif dari sistem

transportasi secara keseluruhan.

– Indikator kinerja yang menggambarkan kondisi objektif dari masing-

masing komponen.

Indikator kinerja dari kondisi sistem transportasi secara keseluruhan pada

dasarnya menggambarkan interaksi yang terjadi antar komponen sistem secara

efektif dan efisien. Sedangkan indikator kinerja dari masing-masing komponen

sistem transportasi pada dasarnya harus dapat menggambarkan masing-masing

komponen.

Page 20

II - 20

2. Ciri Pergerakan

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah :

a. Tujuan pergerakan

Pergerakan ke tempat kerja di negara maju akan lebih mudah jika

menggunakan angkutan umum, karena ketepatan waktu dengan tingkat

pelayanannya sangat baik dan ongkosnya yang lebih murah bila

dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Namun hal itu berbeda bila

dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang, angkutan umum

di negara yang sedang berkembang selain tidak tepat waktu dan tingkat

pelayanannya yang kurang baik, ongkosnyapun jauh lebih mahal bila

dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Oleh karena itu masyarakat di

negara yang sedang berkembang lebih memilih menggunakan

kendaraan pribadi daripada angkutan umum untuk tujuan

pergerakannya.

b. Waktu terjadinya pergerakan

Apabila kita ingin bepergian di tengah malam, kita pasti membutuhkan

kendaraan pribadi, karena angkutan umum tidak / jarang beropersi.

c. Jarak perjalanan

Semakin jauh perjalanan seseorang, maka semakin cenderung seseorang

memilih menggunakan angkutan umum dibandingkan kendaraan

pribadi.

3. Ciri fasilitas moda transportasi

Hal ini dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kategori, yaitu :

a. Faktor kuantitatif, yang terdiri dari :

1) Waktu perjalanan, meliputi waktu menunggu di tempat

pemberhentian bus, waktu menuju ke tempat pemberhentian bus,

dan waktu selama bergerak.

2) Biaya transportasi ( tarip, bahan bakar, dll ).

3) Ketersediaan ruang dan tarif parkir.

b. Faktor kualitatif, meliputi kenyamanan, keamanan, keandalan,

keteraturan, dan lain sebagainya.

Page 21

II - 21

4. Ciri kota / zona

Beberapa ciri yang dapat mempengaruhi pemilihan moda adalah jarak dari

pusat kota dan kepadatan jumlah penduduk. Model pemilihan moda ini

dapat dianggap sebagai model agregat bila digunakan informasi yang

berbasis zona, dan dapat dianggap sebagai model tidak agregat bila dipakai

data berbasis individu.



2.4. Penawaran Jasa Transportasi


2.4.1. Teori Penawaran Jasa Transportasi

Teori penawaran jasa transportasi tidak lepas dari teori ekonomi

mengenai penawaran suatu komoditi tertentu. Fungsi penawaran menentukan

hubungan antara harga pasar untuk suatu komoditi dengan jumlah komoditi

yang akan dihasilkan dan dijual oleh para produsennya. Bentuk khas dari kurva

penawaran sebagai berikut :

Fungsi Penawaran (Supply)

Harga

Kuantitas0

Harga yang diperlukan untuk
mendorong pengusaha menye-
diakan kuantitas yang diukur
dengan sumbu horisontal yang
di bawahnya (sumbu
kuantitas).


Gambar 2.6. Fungsi Penawaran



Bentuk dasar tersebut bertitik tolak dari pemikiran bahwa kenaikan

harga mengakibatkan meningkatnya jumlah yang dihasilkan dan ditawarkan

untuk dijual (Samuelson, 1985, hal 378-391). Kenaikan harga ini dibarengi

dengan pertambahan jumlah, karena perusahaan terdorong untuk menghasilkan

Page 40

II - 40

Dengan menjumlahkan semua pengeluaran berdasarkan sumber

pelayanan, total biaya dapat dibagi berdasarkan sumber – sumber seperti terlihat

pada persamaan :

n

j
CijCj

1
………………………...……………………….…..………. (2.33)

Ket : Cj : alokasi biaya untuk sumber j

Cij : alokasi biaya pada sumber pelayanan j untuk pengeluaran i

n : jumlah pengeluaran operasi

j : pengeluaran awal

Jumlah alokasi biaya untuk setiap sumber pelayanan adalah

susunan biaya berdasarkan sumber pengeluaran yang tersedia, akan sama dengan

total biaya sistem :

n

j
CjCt

1
…………………………………………………….…..…… (2.34)

Ket : Ct : total biaya operasi

Cj : alokasi biaya untuk sumber j

n : jumlah pengeluaran operasi

j : pengeluaran awal

Pengembangan dari model alokasi biaya adalah perhitungan factor unit

biaya seperti terlihat pada persamaan :

Rj
Cj

Uj ………………………………………………………………….. (2.35)

Ket : Uj : unit biaya untuk sumber j

Cj : alokasi biaya untuk sumber j

Rj : sumber angkutan



Sumber – sumber angkutan Rj merupakan keluaran dari sistem

angkutan ( kendaraan-jam, kendaraan-puncak, dan sistem pendapatan ), yang

Page 41

II - 41

dihitung berdasarkan total pelayanan dari semua kendaraan yang beroperasi dalam

satu tahun untuk setiap perusahaan. Model biaya multivariabel dapat didefinisikan

seperti terlihat pada persamaaan :

Ct = U1R1 + U2R2 + U3R3 + … + UnRn ……………………….…………. (2.36)

Ket : Ct : alokasi biaya multivariabel

U : unit biaya

R : sumber angkutan

Setelah diketahui tingkat sumber untuk rute angkutan tertentu, unit biaya

dapat digunakan untuk menghitung biaya sistem angkutan yang terdiri dari

masing – masing pelayanan angkutan. Adapun model alokasi biaya dapat

dikuantifikasikan dari seluruh data sistem tetapi dapat juga digunakan pada

komponen – komponen dari sistem tersebut.

Similer Documents