Download Analisis Kualitatif Berdasarkan Metode h2s PDF

TitleAnalisis Kualitatif Berdasarkan Metode h2s
File Size175.7 KB
Total Pages10
Table of Contents
                            Cara Membuat Hidrogen Sulfida
                        
Document Text Contents
Page 1

ANALISIS KUALITATIF BERDASARKAN METODE H2S

1. Idetifikasi kation berdasarkan H2S

K ation dalam suatu cuplikan dapat diketahui dengan melakukan uji menggunakan pereaksi-

pereaksi yang spesifik, meskipun agak sulit mendapatkan pereaksi yang spesifik untuk

setiap kation. Oleh karena itu umumnya dilakukan terlebih dahulu penggolongan kation.

Sebelum dilakukan pengendapan golongan dan reaksi identifikasi kation dengan cara basah

cuplikan padat harus dilarutkan dahulu.

Supaya mendapatkan larutan cuplikan yang baik, zat yang akan dianalisis dihomogenkan

dahulu sebelum dilarutkan. Sebagai pelarut dapat dicoba dahulu secara berturut-turut mulai

dari air, HCl encer, HCl pekat, HNO3 encer, HNO3 pekat, air raja (HCl : HNO3 = 3:1). Mula-

mula dicoba dalam keadaan dingin lalu dalam keadaan panas. Bila pelarutnya HCl pekat

larutan harus diuapkan sampai sebagaian besar HCl habis. Bila larutan HNO3 atau air raja,

maka semua asam harus dihilangkan dengan cara menguapkan larutan sampai hampir

kering, kemudian ditambahkan sedikit HCl, diuapkan lagi sampai volumenya sedikit lalu

encerkan dengan air.

Dalam cara H2S kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifatsifat

kation tersebut terhadap beberapa pereaksi. Pereaksi golongan yang paling umum dipakai

adalah asam klorida, hidrogen sulfida, amonium sulfida dan amonium karbonat. Jadi

klasifikasi kation didasarkan atas perbedaan dari klorida, sulfida dan karbonat kation

tersebut. Penambahan perekasi golongan akan mengendapkan ion-ion dalam golongan

tersebut. Masing-masing golongan kemudian dipisahkan kemudian dilakukan pemisahan

ion-ion segolongan dan dilakukan identifikasi terhadap masing-masing ion.

a. Golongan I

Kation golongan I (Pb2+, Hg+, Ag+) membentuk endapan dengan HCl encer. Endapan

tersebut adalah PbCl2, Hg2Cl2 dan AgCl yang semuanya berwarna putih.

b. Golongan II

Kation golongan II (Hg2+, Pb2+, Bi3+, Cu2+, Cd2+, As3+, As5+, Sb3+, Sb5+, Sn2+,

Sn4+) membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer.

Endapan yang terbentuk adalah : HgS (hitam), PbS (hitam), CuS (hitam), CdS (kuning),

Bi2S3 (coklat), As2S3 (kuning), As2S5 (kuning), Sb2S3 (jingga), Sb2S2 (jingga), SnS

(coklat) SnS2 (kuning). Kation golongan II dibagi lagi menjadi lagi dua sub golongan

berdasarkan kelarutan endapan tersebut dalam amonium polisulfida, yaitu sub golongan

tembaga (golongan IIA) dan sub golongan arsenik (Golongan IIB). Sulfida dari sub

golongan tembaga (ion Hg2+, Pb2+, Bi3+, Cu2+, Cd2+) tidak larut dalam amonium

polisulfida, sedangkan sulfida sub golongan arsenik (As3+, As5+, Sb3+, Sb5+, Sn2+,

Sn4+) larut membentuk garam-garam kation. Ion-ion golongan IIB ini bersifat amfoter,

Page 2

oksidanya membentuk garam baik dengan asam maupun dengan basa. Semua sulfida dari

golongan IIB larut dalam (NH4)2S tidak berwarna kecuali SnS.

c. Golongan III

Sebelum pengendapan golongan ini dilakukan, terlebih dahulu diperiksa adanya ionion

pengganggu (fosfat, oksalat dan borat). Bila ion-ion tersebut ada maka harus dihilangkan

dahulu. Kation golongan III (Co2+, Ni2+, Fe2+, Zn2+, Mn2+, Cr3+, Al3+) membentuk

endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Endapan yang

terbentuk adalah FeS (hitam), Al(OH)3 (putih), Cr(OH)3 (hijau) NiS (hitam), MnS (merah

jambu) dan ZnS (putih).

d. Golongan IV

Kation golongan ini (Ca2+, Sr2+dan Ba2+) mengendap sebagai karbonatnya dalam

suasana netral atau sedikit asam dengan adanya amonium klorida. Endapan yang terbentuk

adalah BaCO3, CaCO3 dan SrCO3 yang semuanya berwarna putih. Garam logam alkali

tanah yang digunakan untuk pemisahan satu sama lain ialah kromat, karbonat, sulfat dan

oksalat.

e. Golongan V (Golongan sisa)

Kation golongan V (Mg2+, Na+, K+dan NH4+). Untuk identifikasi ion-ion ini dapat dilakukan

dengan reaksi-reaksi khusus atau uji nyala, tetapi ion amonium tidak dapat diperiksa dari

filtrat IV.

Berikut ini contoh identifikasi kation-kation tersebut:

 Pb2+ : Dengan asam klorida encer membentuk endapan putih PbCl2 dalam larutan

dingin dan tidak terlalu encer. Endapan larut dalam air panas dan membentuk kristal

seperti jarum setelah larutan dingin kembali.

 Hg2 2+ : Dengan asam klorida encer membentuk endapan putih Hg2Cl2. Endapan

tidak larut dalam air panas tapi larut dalam air raja.

 Ag+ : Dengan asam klorida encer membentuk endapan putih AgCl. Endapan tidak

larut dalam air panas tapi larut dalam amonia encer karena membentuk kompleks

Ag(NH3)2+. Asam nitrat encer dapat menetralkan kelebihan amonia sehingga endapan

dapat terbentuk kembali.

 Hg2+ : Dengan menambahkan larutan KI secara perlahan-lahan akan membentuk

endapan merah HgI2, yang akan larut kembali dalam KI berlebih karena membentuk

kompleks [HgI4]2-.

 Bi3+ : Dengan NaOH membentuk endapan putih Bi(OH)3 yang larut dalam asam.

 Cu2+ : Dengan NaOH dalam larutan dingin membentuk endapan biru Cu(OH)2, yang

tidak larut dalam NaOH berlebih. Bila endapan tersebut dipanaskan akan terbentuk

endapan hitam CuO.

 Cd2+ : Dengan H2S membentuk endapan kuning CdS, yang larut dalam asam pekat

dan tidak larut dalam KCN.

Page 4

Cara identifikasi anion tidak begitu sistematik seperti pada identifikasi kation. Salah satu

cara penggolongan anion adalah pemisahan anion berdasarkan kelarutan garam-garam

perak, garam-garam kalsium, barium dan seng.

Selain itu ada cara penggolongan anion menurut Bunsen, Gilreath dan Vogel. Bunsen

menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam bariumnya, warna,

kalarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya. Gilreath menggolongkan anion

berdasarkan pada kelarutan garam-garam Ca, Ba, Cd dan garam peraknya. Sedangkan

Vogel menggolongkan anion berdasarkan pada proses yang digunakan dalam identifikasi

anion yang menguap bila diolah dengan asam dan identifikasi anion berdasarkan reaksinya

dalam larutan.

Identifikasi anion yang menguap bila diolah dengan asam dibagi dua lagi yaitu anion

membentuk gas bila diolah dengan HCl encer atau H2SO4 encer, dan anion yang

membentuk gas atau uap bila diolah dengan H2SO4 pekat. Demikian pula identifikasi anion

berdasarkan reaksi dalam larutan dibagi dua yaitu anion yang diidentifikasi dengan reaksi

pengendapan dan dengan reaksi redoks.

Identifikasi anion meliputi analisis pendahuluan, analisis anion dari zat asal dan analisis

anion dengan menggunakan larutan ekstra soda. Dari hasil analisis sebelumnya (data

kelarutan) dan pengetahuan tentang kation yang ada, dapat memberikan petunjuk tentang

anion yang mungkin ada atau tak ada dalam larutan sampel. Sebagai contoh, zat asal larut

dalam air panas, kation yang ditemukan Pb2+, anion yang mungkin ada adalah klorida

karena PbCl2 larut dalam air panas. Tida mungkin nitrat karena timbal nitrat mudah larut

dalam air dingin.

Berikut ini akan dibahas beberapa reaksi identifikasi anion yang lain.

 SO3 2- : Dengan larutan KmnO4 yang diasamkan dengan asam sulfat encer akan

terjadi penghilangan warna ungu KmnO4 karena MnO4 tereduksi menjadi ion Mn2+.

 S2O3 2- : Dengan larutan Ion akan terjadi penghilangan warna iod karena terbentuk

larutan tetrationat yang tak berwarna.

 SO4 2- : Dengan larutan barium klorida membentuk endapan putih BaSO4 yang tak

larut dalam HCl encer, asam nitrat encer tetapi larut dalam HCl pekat panas.

 NO2 – : Dengan larutan KI kemudian diasamkan dengan asetat atau sulfat encer

akan dibebaskan iodium yang dapat diidentifikasi dari timbulnya warna biru dalam pasta

kanji.

 CN- : Dengan larutan AgNO3 terbentuk endapan putih AgCN yang mudah larut dalam

larutan sianida berlebih karena membentuk ion komplkes [Ag(CN)2] –

 SCN- : Dengan larutan FeCl3 membentuk warna merah darah.

Page 5

 [Fe(CN)6]4- : Dengan larutan FeCl3 akan terbentuk endapan biru prusia dalam

larutan netral atau asam. Endapan diuraikan oleh larutan hidroksida alkali membentuk

endapan Fe(OH)3 yang berwarna coklat.

 [Fe(CN)6]3- : Dengan larutan AgNO3 membentuk endapan merah jingga,

Ag3[Fe(CN) 6] yang larut dalam amonia tetapi tidak larut dalam asam nitrat.

 Cl- : Dengan larutan AgNO3 membentuk endapan putih AgCl yang tidak larut dalam

air dan asam nitrat encer, tetapi larut dalam amonia encer.

 Br- : Dengan larutan AgNO3 membentuk endapan kuning AgBr yang sukar larut

dalam amonia encer, larut dalam amonia pekat, KCN dan Na2S2O3 tetapi tidak larut

dalam sama nitrat encer.

 I- : Dengan larutan Pb asetat terbentuk endapan kuning PbI2 yang larut dalam air

panas yang banyak membentuk larutan tidak berwarna, ketika didinginkan terbentuk

keping-keping kuning keemasan.

 NO3 – : Dengan tes cincin coklat. Tambahkan 3 ml larutan FeSO4 yang segar ke

dalam 2 ml larutan NO3 -. Tuangkan 3-5 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung.

Terbentuknya cicncin coklat menunjukkan adanya NO3 -.

Cara Membuat Hidrogen Sulfida

Hidrogen sulfida adalah beracun dan tidak berwarna senyawa kimia yang sering dihasilkan oleh
pemecahan bahan limbah. Bau busuk telur adalah salah satu atribut yang diidentifikasi senyawa
mudah terbakar ini. Juga merupakan komponen dari gas alam, itu adalah sumber utama untuk
komersial hidrogen sulfida.

Aplikasi ini memiliki luas wilayah yang meliputi

1. Kimia analitik
2. Thio-senyawa organik produksi
3. Hydro-desulfurization etc

Metode untuk Menghasilkan H2S

Persiapan standar H2S adalah dengan memanaskan perlahan-lahan asam kuat dengan besi sulfida
dalam Kipp generator. Kipp generator peralatan laboratorium yang digunakan untuk
mengendalikan reaksi kimia yang menghasilkan gas. Ini fitur tiga kamar dan masing-masing
ruang mempunyai fungsi individual untuk tampil. Sementara memegang ruang atas reagen cair
dan yang di tengah memegang reagen yang solid, ruang bawah digunakan untuk menerima
cairan reagen, jika diperlukan.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang terlibat dalam proses:

Page 6

1. Benar memeriksa Kipp generator sebelum memulai proses. Sekarang tempat asam kuat
seperti asam klorida (HCl) di ruang atas dan besi sulfida di ruang tengah dari Kipp
generator.

2. Lembut panas ruang bawah. Pastikan bahwa jumlah panas yang kecil akan cukup untuk
melanjutkan pada tingkat yang diperlukan.

3. Sekarang buka katup ruang tengah dan membiarkan asam mengalir ke ruang bawah.
Biarkan asam naik secara bertahap ke ruang tengah dari peralatan Kipp dan datang di
kontak dengan besi sulfida hadir di sana.

4. Ini akan menghasilkan produksi Hidrogen sulfida yang akan melarikan diri melalui katup
di ruang tengah.

5. H2S juga dapat diperoleh oleh pemisahan dari gas asam yang gas alam yang memiliki
kandungan H2S tinggi. Hal ini dapat diproduksi dengan membiarkan gas hidrogen
bereaksi dengan belerang cair pada suhu 450 ° C.

Sumber di mana Anda dapat menemukan H2S

 H2S dapat ditemukan di saluran pembuangan dan rawa-rawa. Hal ini sering dibentuk
dengan runtuhnya sulfida dan kekurangan oksigen.

 Juga dapat dideteksi dalam gas dilepaskan dari gunung berapi, sumber air panas, dan gas
alam.

 Biasanya bakteri rincian bahan organik juga menghasilkan hidrogen sulfida.

 Proses industri seperti pengolahan makanan, coke oven, dll penyulingan minyak bumi,
memancarkan hidrogen sulfida.

 Kation golongan II
 Kation golongan II : Merkuri (II), timbal (II), bismuth (III), tembaga (II), kadmium

(II), arsen (III) dan (V), stibium (III), dan timah (II)
 Reagensia golongan : hydrogen sulfida (gas atau larutan-air jenuh)
 Reaksi golongan : endapan-endapan dengan berbagai warna HgS (hitam), PbS

(hitam), Bi2S3(coklat), AS2S3 (kuning), Sb2S3 (jingga), SnS2 (coklat) dan SnS2 (kuning).
 Kation golongan II dibagi menjadi dua sub-golongan, yaitu sub-golongan tembaga dan

sub-golongan arsenik. Dasar dari pembagian subgolongan ini adalah kelarutan endapan
sulfida dalam amonium polisulfida. Sementara sulfida dari sub-golongan tembaga tak
larut dalam reagensia ini., sulfida dari sub-golongan arsenik melarut dalam membentuk
garam tio.

Page 7

 Sub-golongan tembaga terdiri dari merkurium(II), timbel(II), bismuth(II), tembaga(II),
dan kadmium(II). Klorida, nitrat, dan sulfat dari kation-kation sub-golongan tembaga,
sangat mudah larut dalam air. Sulfida, hidroksida, dan karbonat-nya tak larut.

 Sub-golongan arsenik terdiri dari ion arsenik(III), arsenik(V), stibium(II), Stibium(V),
timah(II), dan timah(V). Ion-ion ini mempunyai sifat amfoter. Oksidanya membentuk
garam baik dalam asam maupun dengan basa.

 Identifikasi Kation Golongan II
 1. Identifikasi Hg2+

 a. Larutan amonia, menghasilkan endapan putih yang berupa merkurium(II) oksida
dan merkurium(II) nitrat

 2Hg2+ + NO3- + 4NH3 + H2O HgO.Hg(NH2)NO3 + NH3
 b. Natrium hidroksida,bila ditambahkan dalam jumlah sedikit menghasilkan endapan

berwarna merah kecoklatan. Bila dalam jumlah yang stoikiometris,endapan berubah
menjadi kuning ketika terbentuk merkurium(II) oksida

 Hg2+ + 2OH- HgO + H2O
 Endapan tak larut dalam natrium hidrosikda berlebihan. Asam dapat melarutkan

endapan.
 c. Kalium iodida menghasilkan endapan berwarna merah berupa merkurium(II)

iodida
 Hg2+ + 2I- HgI2
 2. Identifikasi Bi3+
 a. Larutan amonia, menghasilkan endapan berwarna putih berupa garam basa
 Bi3+ + NO3- + 2NH3 + 2H2O Bi(OH)2NO3 + 2NH4+

 Endapan larut dalam reagensia berlebih.
 b. Natrium hidroksida, menghasilkan endapan putih berupa bismut(II) hidroksida
 Bi3+ + 3OH- Bi(OH)3
 Endapan hanya sedikit sekali yang larut dalam reagensia berlebihan dengan larutan

dingin.
 c. Kalium iodida, bila ditambahkan setetes demi tetes menghasilkan endapan

berwarna hitam berupa bismuth(II) iodida
 Bi3+ + 3I- BiI3
 Endapan mudah larut dalam reagensia berlebihan yang akan membentuk ion

tetraiodobismutat yang berwarna jingga
 BiI3 + I- [BiI4]-

 3. Identifikasi As2+

 a. Larutan perak nitrat menghasilkan endapan berwarna merah kecoklatan berupa
perak arsenat (Ag3AsO4)

 AsO43- +3Ag+ Ag3AsO4
 b. Larutan kalium iodida, jika ada asam klorida pekat, iod akan diendapkan, dengan

mengocok campuran dengan 1-2 ml kloroform atau karbon tetraklorida. Zat yang terakhir
ini akan diwarnai ungu oleh iod.

 AsO43- + 2H+ + 2I- AsO33- + I2 + H2O
 3. Identifikasi Cu2+

Page 8

 a. Larutan amonia, bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit menghasilkan
endapan berwarna biru berupa tembaga sulfat basa

 2Cu2+ + SO42- + 2NH3 + 2H2O Cu(OH)2.CuSO4 + 2NH4+
 Endapan larut dalam reagensia berlebihan dimana terbentuknya ion kompleks

tetraaminokuprat(II) yang berwarna biru tua
 Cu(OH)2.CuSO4 + 8NH3 2[Cu(NH3)4]2+ + SO42- + 2OH-
 b. Natrium hidroksida dalam larutan dingin menghasilkan endapan berwarna biru

berupa tembaga(II) hidroksida
 Cu2+ + 2OH- Cu(OH)2
 Endapan tak larut dalam reagensia berlebihan. Bila dipanaskan, endapan berubah menjadi

tembaga(II) oksida berwarna hitam
 Cu(OH)2 CuO + H2O
 c. Kalium iodida mengendapkan tembaga(I) iodida berwarna putih. Tetapi larutannya

berwarna coklat tua karena terbentuknya ion-ion tri-iodida (iod)
 2Cu2+ + 5I- 2CuI + I-3
 4. Identifikasi ion stano (larutan uji SnCl2 0,25 M)
 a. Ditambahkan larutan kalium hidroksida ke dalam larutan uji, maka terbentuk endapan

putih stanno hidroksida yang larut dengan pereaksi berlebih.
 b. Ditambahkan larutan amonia atau alkali karbonat ke dalam larutan uji, maka akan

terbentuk endapan putih dari stanno hidroksida yang tidak larut dengan penambahan
pereaksi berlebih.

 c. Setelah larutan uji SnCl2 yang keruh ditambahkan larutan NaOH, terbentuk endapan
putih Sn(OH)2. Setelah ditambahkan NaOH berlebih endapan putih tersebut larut.
Endapan putih Sn(OH)2.

 d. setelah larutan uji ditambahkan Na2CO3, terbentuk endapan putih dari Sn(OH)2.
Setelah ditambahkan Na2CO3 berlebih, endapan putih tersebut tidak larut.
Endapan putih Sn(OH)2 (wayan 2010)

Mungkin ini adalah bilangan ghoib pertama dalam matematika yang diajarkan saat
qt SD. Tahukah kmu klo sebenarnya Pi ini adalah panjang keliling lingkaran yang
berdiameter 1 satuan. Silahkan lihat gambar dulu gan di sini

Jadi... misalkan qt punya roda yang diameternya 1 meter trus qt ukur kelilingnya
dengan cara melekatkan seutas tali pada sekeliling roda tersebut, maka panjang tali
yang dibutuhkan adalah sekitar 3.14159 meter. Nilai perbandingan antara keliling
dan diameter lingkaran ini selalu konstan untuk setiap lingkaran yaitu 3.14159. Pi
juga biasanya diartikan sebagai 1 putaran penuh lingkaran atau 2 pi = 360derajat.

Note:
- Pi bukan phi , klo phi tu gelombang ratio
- 360 derajat = 2 pi Radian, jadi 180 derajat tu 1 pi radian gan..

22/7 itu angka yang mendekati pi, tapi bukan pi, pi sebenarnya

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2a/Pi-unrolled-720.gif

Similer Documents